Selasa, 27 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
lameirinhos.comlameirinhos.com
lameirinhos.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Coba Jawab 5 Pertanyaan Pensiunan soal Belajar di ...

Coba Jawab 5 Pertanyaan Pensiunan soal Belajar di Usia Senja

Pensiunan sering ragu mau belajar apa dan bagaimana. Ini jawaban jujur untuk lima pertanyaan yang paling sering muncul.

Coba Jawab 5 Pertanyaan Pensiunan soal Belajar di Usia Senja

Sejak saya pensiun tiga tahun lalu, satu hal yang paling sering ditanyakan teman-teman seangkatan ke saya adalah soal belajar. Aneh memang. Dulu waktu masih kerja, nggak ada yang tanya begini. Begitu nggak lagi pegang jabatan, tiba-tiba banyak yang kepikiran mau belajar hal baru — tapi bingung mulai dari mana.

Jadi tulisan ini saya susun dari obrolan-obrolan itu. Bukan jawaban pakar, tapi jawaban orang yang sudah lewat masa galau yang sama. Kalau kamu pensiunan atau mendekati masa itu, mungkin beberapa pertanyaan di bawah ini terasa familier.

Baca juga: Sehabis Pensiun, Saya Coba Belajar 20 Menit Sehari: Ini yang Berubah

"Apa saya nggak terlambat mulai belajar sekarang?"

Ini pertanyaan nomor satu. Dan jawabannya: terlambat untuk apa dulu?

Kalau tujuannya jadi ahli matematika tingkat dunia, ya mungkin iya. Tapi kebanyakan pensiunan yang saya temui sebenarnya cuma pengin bisa hal-hal sederhana: baca laporan keuangan pensiun sendiri, pakai aplikasi video call buat cucu, atau main gitar lagi setelah 40 tahun nggak pegang.

Untuk kebutuhan seperti itu, usia justru punya kelebihan. Kita punya waktu yang nggak dimiliki orang kerja. Kita nggak buru-buru. Dan yang paling penting — kita belajar karena mau, bukan karena dituntut atasan.

Belajar di usia senja itu bukan soal mengejar ketinggalan. Ini soal memilih apa yang memang ingin kamu kuasai.

Saya sendiri mulai belajar fotografi pakai ponsel di umur 61. Nggak jadi fotografer profesional, jelas. Tapi sekarang saya bisa motret cucu dengan hasil yang nggak bikin malu kalau dicetak.

"Berapa lama sebaiknya belajar tiap hari?"

Jangan ikut-ikutan target orang muda yang bilang harus 2 jam sehari. Itu resep cepat menyerah.

Pengalaman saya dan beberapa teman: 20 sampai 30 menit sehari sudah cukup, asal rutin. Kuncinya bukan durasi, tapi frekuensi. Belajar 20 menit tiap hari selama seminggu jauh lebih nempel daripada 3 jam sekali seminggu.

Kenapa begitu? Karena otak orang dewasa — apalagi yang sudah senior — lebih efektif mencerna sedikit-sedikit tapi berulang. Kayak menyiram tanaman. Sedikit tiap hari lebih baik daripada diguyur seember lalu kering seminggu.

Kalau suatu hari nggak mood, ya sudah, 5 menit juga nggak apa-apa. Yang penting jangan bolong sama sekali. Saya sering cuma buka buku 10 menit sambil ngopi pagi. Itu sudah dihitung belajar.

"Belajarnya di mana dan pakai apa?"

Ini pertanyaan yang jawabannya tergantung gaya masing-masing. Tapi ada beberapa pola yang sering saya amati.

Kalau kamu tipe orang yang gampang bosan

Coba campur. Belajar dari video di ponsel, lalu praktik langsung. Misalnya belajar masak — tonton resepnya, langsung coba. Jangan cuma nonton terus tanpa pernah eksekusi. Itu namanya nonton, bukan belajar.

Kalau kamu tipe yang butuh teman

Cari komunitas. Banyak posyandu lansia, kelurahan, atau komunitas hobi yang punya kegiatan rutin. Belajar bareng itu obat paling ampuh buat rasa malas. Saya kenal seorang pensiunan guru yang ikut kelas bahasa Inggris di balai RW — bukan karena butuh, tapi karena suasananya bikin semangat.

Kalau kamu tipe yang suka menyendiri

Buku, podcast, atau kursus online pendek-pendek. Nggak perlu yang mahal. Banyak materi gratis bertebaran, tinggal pilih yang bahasanya nggak bikin pusing.

"Kenapa saya cepat lupa padahal sudah belajar?"

Ini bukan tanda kamu sudah terlalu tua. Ini tanda cara belajarnya kurang pas.

Lupa itu normal. Yang bikin materi nempel adalah mengulang di waktu yang tepat. Bukan mengulang terus-menerus sampai hafal, tapi mengulang di jeda yang pas — besoknya sedikit, beberapa hari kemudian sedikit lagi.

  • Hari pertama: pelajari materinya 20 menit.
  • Besoknya: buka lagi 5 menit, cukup ingat-ingat intinya.
  • Tiga hari kemudian: ulang lagi sebentar.
  • Seminggu kemudian: coba jelaskan ke orang lain atau tulis ulang dengan kata sendiri.

Cara terakhir itu paling ampuh. Kalau kamu bisa menjelaskan sesuatu dengan bahasa sendiri, berarti kamu benar-benar paham. Kalau masih terbata-bata, berarti ada bagian yang perlu diulang.

Saya dulu sering merasa sudah paham suatu hal, sampai saya coba jelaskan ke istri. Baru sadar ternyata banyak bolongnya. Sejak itu saya rutin "menguji" diri dengan cara ngobrol.

"Belajar apa yang bagus buat pensiunan?"

Ini sebenarnya pertanyaan yang jawabannya cuma kamu yang tahu. Tapi biar ada gambaran, biasanya ada tiga arah yang sering dipilih:

Pertama, keterampilan praktis — yang langsung berguna sehari-hari. Kelola keuangan pribadi, pakai aplikasi kesehatan, bikin catatan belanja, atau sekadar paham cara cek rekening sendiri tanpa minta bantuan anak.

Kedua, hobi yang dulu tertunda. Berkebun, melukis, main alat musik, menulis. Ini yang paling sering bikin pensiunan bahagia, karena belajarnya nggak ada tekanan. Nggak ada ujian, nggak ada target.

Ketiga, hal yang bikin otak tetap aktif — bahasa asing, teka-teki, atau membaca topik baru. Bukan untuk jadi pintar mendadak, tapi untuk menjaga daya ingat tetap jalan.

Saran saya: pilih satu dulu. Jangan langsung lima. Saya pernah coba belajar tiga hal sekaligus dalam sebulan — hasilnya nol besar. Semua setengah jalan. Begitu fokus satu, baru kelihatan hasilnya.

Satu hal yang jarang diomongin

Banyak pensiunan berhenti belajar bukan karena malas, tapi karena malu. Malu bertanya, malu salah, malu dianggap "kudet". Padahal justru di usia ini kita punya hak penuh untuk pemula lagi.

Nggak ada yang aneh dari orang 65 tahun yang baru belajar bikin video call. Yang aneh itu kalau kita berhenti penasaran sama sekali.

Jadi kalau kamu masih ragu mau mulai dari mana — mulai saja dulu. Salah nggak apa-apa. Lupa juga nggak apa-apa. Yang penting besok dicoba lagi, walau cuma 10 menit sambil ngopi.

Tags: belajar usia senja pensiunan produktif cara belajar efektif pendidikan orang dewasa hobi pensiun