Gue pernah ngalamin masa-masa di mana gue merasa udah belajar banyak, tapi pas ditanya balik, otak gue kosong. Waktu itu gue lagi sering banget bolak-balik antar kota, naik kereta, nunggu di bandara, dan sesekali nginap di hotel yang kasurnya bikin betah rebahan. Gue bawa buku, laptop, dan niat besar buat "belajar di sela-sela perjalanan". Kenyataannya? Buku cuma dibuka lima halaman, laptop cuma buat nonton film, dan gue pulang dengan perasaan bersalah.
Kalau kamu sering bepergian, entah itu karena kerja, kuliah, atau memang hobi jalan, kamu mungkin ngalamin hal yang sama. Masalahnya bukan karena kamu malas. Masalahnya karena cara belajar yang kamu pakai nggak cocok sama ritme hidup kamu yang serba berpindah. Dan itu wajar banget.
Nah, di artikel ini gue mau bahas kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan para pejalan saat belajar, sekaligus cara ngatasinnya. Bukan teori muluk dari buku teks, tapi hal-hal yang gue sendiri udah coba dan rasain efeknya.
Kesalahan #1: Belajar Cuma Pas "Sempat"
Ini kesalahan paling klasik. Kita sering bilang ke diri sendiri, "Nanti kalau ada waktu luang, gue belajar." Masalahnya, waktu luang itu nggak pernah datang sendiri. Apalagi kalau kamu sering traveling, jadwal kamu udah penuh sama hal-hal yang nggak bisa ditunda: cek-in, transit, meeting, atau sekadar nyari makan di tempat baru.
Akibatnya, belajar jadi kegiatan yang selalu ditunda. Kamu nunggu momen "pas banget" yang sebenarnya nggak akan pernah ada. Dan ketika akhirnya ada waktu kosong, kamu udah kelelahan dan cuma pengen rebahan sambil scroll HP.
Belajar bukan soal punya waktu luang. Belajar itu soal bikin waktu luang yang memang nggak ada.
Cara ngatasinnya gimana? Jadwalin belajar kayak kamu jadwalin penerbangan. Kalau kamu punya flight jam 7 pagi, kamu nggak akan bilang "nanti kalau sempat ke bandara". Kamu bangun lebih awal, siap-siap, dan berangkat. Nah, perlakukan belajar dengan disiplin yang sama. Tentukan slot waktunya, misalnya 30 menit setelah sarapan atau 20 menit sebelum tidur. Kecil nggak masalah, yang penting konsisten.
Kesalahan #2: Bawa Terlalu Banyak Materi, Tapi Nggak Ada yang Selesai
Gue dulu sering banget bawa tiga buku, dua kursus online yang belum kelar, plus puluhan artikel yang di-save di aplikasi read-later. Niatnya biar "ada pilihan". Kenyataannya, gue malah bingung mau mulai dari mana dan akhirnya nggak ngapa-ngapain.
Kalau kamu sering pindah tempat, barang bawaan itu beban. Nggak cuma beban fisik, tapi juga beban mental. Punya terlalu banyak pilihan bikin otak kamu lelah sebelum mulai belajar.
Solusinya simpel: pilih satu topik utama buat satu perjalanan. Misalnya, kalau minggu ini kamu lagi fokus belajar bahasa Inggris, ya bawa materi bahasa Inggris aja. Jangan campur sama materi public speaking atau coding. Fokus itu bukan soal kamu belajar banyak hal sekaligus, tapi soal kamu menyelesaikan satu hal sampai tuntas sebelum pindah ke yang lain.
Aturan satu topik, satu perjalanan
Coba terapin aturan ini: setiap kali kamu mau bepergian, tentukan satu topik yang mau kamu kuasai selama perjalanan itu. Bisa satu bab buku, satu modul kursus, atau satu skill spesifik. Dengan begitu, otak kamu nggak kebanjiran informasi dan progresnya lebih kelihatan.
Kesalahan #3: Belajar di Tempat yang Terlalu Ramai atau Terlalu Sepi
Ini agak ironis. Banyak orang mikir belajar paling enak itu di kafe yang ramai biar "suasananya hidup". Ada juga yang milih tempat super sepi biar fokus. Dua-duanya bisa jadi masalah kalau nggak sesuai sama tipe kamu.
Gue pernah coba belajar di kafe bandara yang ramai banget. Hasilnya? Gue cuma bisa baca satu paragraf dalam 20 menit karena terusik sama suara pengumuman dan orang ngobrol. Sebaliknya, gue juga pernah nyoba belajar di kamar hotel yang sunyi banget sampai gue malah ngantuk dan ketiduran.
Kuncinya bukan ramai atau sepi, tapi konsisten. Otak kita suka rutinitas. Kalau kamu selalu belajar di kondisi yang sama, otak akan otomatis masuk mode fokus begitu kamu duduk di situ. Jadi, cari satu "spot belajar" yang bisa kamu replikasi di mana pun kamu berada. Misalnya, selalu belajar sambil duduk di kursi (bukan di kasur), pakai headphone dengan musik instrumental yang sama, dan matiin notifikasi HP.
Kesalahan #4: Nggak Punya Sistem Review
Ini yang paling sering bikin belajar sia-sia. Kamu udah baca banyak, nonton video, dengerin podcast, tapi seminggu kemudian lupa semuanya. Kenapa? Karena kamu nggak pernah ngulang.
Otak manusia itu bukan hard disk yang bisa nyimpen data selamanya setelah sekali baca. Kita butuh yang namanya spaced repetition atau pengulangan berkala. Tanpa itu, informasi yang masuk cuma numpang lewat.
Buat kamu yang sering traveling, sistem review ini justru lebih gampang diterapin karena kamu punya banyak "waktu mati" yang bisa dimanfaatkan. Misalnya, waktu nunggu pesawat, waktu di dalam taksi, atau waktu antre di restoran.
- Bikin catatan singkat setiap selesai belajar. Cukup 3-5 poin utama, jangan panjang-panjang.
- Review catatan itu keesokan harinya selama 5 menit, lalu 3 hari kemudian, lalu seminggu kemudian.
- Gunakan aplikasi flashcard kayak Anki atau Quizlet yang bisa kamu akses dari HP kapan aja.
- Jangan cuma baca ulang, tapi coba jelasin ulang pakai kata-kata sendiri. Kalau kamu bisa jelasin tanpa buka catatan, berarti kamu udah paham.
Gue sendiri sekarang selalu bawa satu notebook kecil khusus buat nulis poin-poin penting. Setiap kali nunggu sesuatu, gue buka notebook itu dan review isinya. Simpel, tapi efeknya besar banget.
Kesalahan #5: Ngejar "Jam Belajar" daripada "Hasil Belajar"
Banyak orang bangga kalau udah belajar 3 jam sehari. Padahal, yang penting bukan berapa lama kamu belajar, tapi berapa banyak yang kamu serap dan pahami. Belajar 3 jam sambil multitasking dan cek HP tiap 5 menit itu jauh lebih buruk daripada belajar 45 menit dengan fokus penuh.
Apalagi kalau kamu sering traveling, waktu kamu terbatas dan energi kamu bisa terkuras karena perjalanan. Jadi, jangan buang waktu buat duduk "formal" di depan buku kalau otak kamu sebenernya udah nggak bisa diajak kerja sama. Lebih baik belajar 20 menit dengan fokus tinggi, lalu istirahat, lalu lanjut lagi kalau memungkinkan.
Teknik Pomodoro bisa banget kamu pakai di sini. Belajar 25 menit, istirahat 5 menit. Ulangin 3-4 kali. Kalau di tengah perjalanan, kamu bisa pakai waktu transit atau waktu nunggu buat satu sesi Pomodoro. Nggak perlu lama, yang penting berkualitas.
Jadi, Mulai dari Mana?
Kalau kamu merasa selama ini belajar sambil traveling nggak pernah ngefek, coba cek lagi lima kesalahan di atas. Mungkin kamu terlalu nunggu waktu luang, atau bawa terlalu banyak materi, atau nggak pernah review. Apapun itu, kabar baiknya adalah semua bisa diperbaiki.
Mulai dari yang paling gampang: tentuin satu topik buat perjalanan berikutnya, siapin catatan singkat, dan jadwalin sesi review. Nggak perlu langsung sempurna. Yang penting kamu mulai, dan kamu konsisten.
Ingat, belajar itu bukan soal seberapa sering kamu duduk di depan buku, tapi seberapa sering kamu bikin otak kamu benar-benar bekerja. Selamat mencoba, dan semoga perjalanan kamu berikutnya nggak cuma penuh foto, tapi juga penuh ilmu.