Rumah kami cuma tipe 36, di gang sempit Jakarta Timur. Dua kamar, satu ruang tamu yang juga jadi ruang makan, dan meja lipat yang kalau dibuka bikin pintu kamar nggak bisa ditutup. Di meja itulah, minggu lalu, gue coba satu eksperimen: bikin jadwal belajar seminggu buat seluruh isi rumah. Anak gue kelas 4 SD, istri gue kerja shift di klinik, dan ibu gue—nenek dari anak gue—tinggal bareng kami sejak dua tahun lalu.
Kenapa repot-repot? Karena gue sadar, selama ini belajar cuma jadi urusan anak. Gue dan istri sibuk kerja, nenek sibuk nonton sinetron, dan anak belajar sendirian di kamar sambil sesekali buka HP. Hasilnya ya gitu-gitu aja. Nilai matematikanya naik turun kayak harga cabai.
Baca juga: Checklist Belajar Ngebut ala Orang yang Hidup di Koper
Jadi gue bikin rencana sederhana. Nggak ada aplikasi, nggak ada les tambahan, nggak ada beli buku baru. Cuma satu meja, satu jam, dan kesepakatan bareng. Ini ceritanya.
Hari 1–2: Bikin "jam belajar" yang sama buat semua orang
Langkah pertama yang gue lakukan justru bukan nyuruh anak belajar. Gue kumpulin bertiga—istri, nenek, anak—dan ngobrol di ruang tamu. Gue bilang, "Kita coba seminggu ini, jam 7 sampai 8 malam, semua yang ada di rumah ini belajar. Bukan cuma anak."
Reaksinya? Istri gue ketawa. "Gue belajar apa? Udah tua." Nenek gue malah nanya, "Nenek belajar apa, baca Al-Quran ya?" Anak gue paling antusias karena dia pikir bakal ada yang nemenin dia ngerjain PR.
Dan di situlah poinnya. Belajar nggak harus berarti buka buku pelajaran. Istri gue akhirnya milih belajar bahasa Inggris lewat video pendek—dia butuh buat komunikasi sama pasien asing di klinik. Nenek gue milih belajar baca resep masakan dari HP, karena dia pengin masak yang lebih variatif buat cucunya. Anak gue, ya, PR dan baca buku cerita.
Gue sendiri? Gue belajar baca laporan keuangan kantor yang selama ini gue tunda. Nggak keren, tapi jujur.
Dua hari pertama ini kacau. Nenek gue ngantuk jam 7.15. Istri gue masih buka WA. Anak gue nanya terus, "Ini sampai jam berapa?" Tapi gue biarin aja. Namanya juga awal.
Hari 3–4: Satu meja, satu aturan—HP jauh dari jangkauan
Masuk hari ketiga, gue mulai tegas soal satu hal: HP ditaruh di rak sepatu, kecuali yang dipakai buat belajar. Nenek gue protes karena dia belajar dari HP. Oke, fine, HP nenek boleh dibawa, tapi cuma buat buka resep. Istri gue? HP-nya gue taruh di rak. Dia sempat ngambek, tapi besoknya dia bilang, "Eh, ternyata enak juga nggak pegang HP sejam."
Yang paling gue syukuri: anak gue jadi lihat orang dewasa di rumahnya juga belajar. Bukan cuma dia yang disuruh. Waktu dia lihat ibunya megang buku catatan kecil sambil dengerin video bahasa Inggris pakai earphone, dia tanya, "Ibu juga ada PR?" Istri gue jawab, "Iya, PR ibu belajar nyapa pasien." Anak gue ketawa. Tapi besoknya dia ngerjain PR tanpa disuruh.
Anak itu bukan belajar dari apa yang kita suruh. Anak belajar dari apa yang kita lakukan di meja yang sama.
Hari keempat, nenek gue tiba-tiba bawa buku tulis kecil. Katanya dia mau nulis resep yang dia temuin di HP, biar nggak lupa. Gue hampir nangis, sumpah. Nenek gue, 68 tahun, bikin catatan sendiri tanpa disuruh.
Hari 5–6: Belajar sambil ngobrol, bukan sambil diuji
Nah, ini bagian yang gue paling suka. Hari Jumat dan Sabtu, gue ubah formatnya. Nggak ada yang duduk diam baca sendiri. Kita ngobrol.
Istri gue cerita soal kata bahasa Inggris yang dia pelajari hari itu. Nenek gue cerita soal bumbu yang baru dia kenal. Anak gue cerita soal tokoh di buku ceritanya. Gue cerita soal angka di laporan yang bikin gue pusing.
Kedengarannya sepele. Tapi ternyata, menjelaskan apa yang baru dipelajari ke orang lain itu jauh lebih ngecek pemahaman daripada baca ulang lima kali. Anak gue, waktu cerita soal buku ceritanya, ternyata lupa satu bagian. Dia balik buka bukunya, baca ulang, baru cerita lagi. Itu belajar yang efektif banget, dan dia nggak sadar kalau sedang belajar.
Yang perlu disiapkan cuma ini:
- Satu meja yang cukup buat semua (kalau sempit, giliran duduk di lantai juga nggak apa-apa)
- Satu jam yang disepakati bareng, bukan ditentukan sepihak
- Satu tempat buat naruh HP di luar jangkauan
- Satu buku tulis kecil buat masing-masing, buat catatan apa pun yang dipelajari hari itu
- Niat buat nanya, bukan nguji
Nggak ada yang beli apa pun selama seminggu ini. Serius. Buku tulis nenek gue ambil dari tumpukan buku tulis anak gue yang belum kepakai.
Hari 7: Evaluasi santai sambil makan malam
Minggu malam, kami makan bareng—ini ritual yang biasanya cuma terjadi kalau ada acara. Gue nanya satu-satu: apa yang paling susah minggu ini, dan apa yang paling seru.
Istri gue bilang yang paling susah itu konsisten. Nenek gue bilang yang paling susah itu nggak ketiduran. Anak gue bilang yang paling susah itu nahan diri buat nggak buka HP—dan ini jujur banget dari anak kelas 4 SD. Yang paling seru, kata mereka bertiga, ternyata sama: ngobrolin apa yang dipelajari di hari Jumat dan Sabtu.
Gue nggak bilang eksperimen ini sukses total. Masih ada hari di mana nenek ketiduran di sofa jam 7.20. Masih ada hari di mana istri gue pulang shift malem dan nggak ikut. Tapi anak gue, selama seminggu itu, ngerjain PR tanpa drama. Dan itu buat kami udah lumayan banget.
Kalau kamu punya keluarga kecil di kota besar dengan rumah sempit dan waktu yang mepet, coba deh satu minggu ini. Nggak perlu nunggu punya ruang belajar bagus atau beli kursi ergonomis. Mulai dari meja makan yang sama, jam yang sama, dan kesepakatan bahwa semua orang—termasuk yang udah tua—belajar sesuatu. Kadang yang bikin anak rajin belajar bukan les mahal, tapi lihat neneknya serius bikin catatan resep di meja yang sama.